Sebelum membaca ayo rapihkan barisan anda dan pompakan semangat sampai kelojotan…Meski pemilu masih lama tidak ada salahnya bagi yang ingin menjadi caleg mari kita siapkan diri, jangan ragu-ragu silahkan berlatih… Continue reading ‘Persiapan menjadi Caleg’


Satu lagi alternatif dalam proses perencanaan strategis di luar analisis SWOT, yaitu pendekatan SOAR (Strengths, opportunities, aspirations, results). Dimanakah letak perbedaannya dengan SWOT? Continue reading ‘Alternatif dalam proses perencanaan strategis’


Selama ini banyak yang mengklaim dirinya profesional. Seorang karyawan yang rajin bekerja dengan kedudukan yang bagus sudah menganggap dirinya profesional. Padahal untuk menjadi profesional, seseorang tidak cukup hanya dengan rajin dan memiliki kedudukan yang bagus. Lalu gimana dong supaya bisa profesional? Memang, untuk menjadi profesional bukanlah hal yang mudah. Untuk mencapainya anda perlu bekerja lebih keras lagi. Bukan itu saja, seorang profesional harus memenuhi beberapa kriteria, baik teknis maupun non teknis seperti persyaratan watak dan karakter. Berikut ini adalah syarat-syarat untuk menjadi seorang profesional:

Continue reading ‘Jadi Profesional Sejati “Bagaimana?”’


jalan setapak

25Jul08

ntah kenapa aku masih terusik menuliskan kembali perjalananku melewati dataran tinggi meski kemarin sedikit banyak sudah aku bahas lewat tulisan sentimentil nan penuh harap.

Aku masih ingat ketika pertama kali aku dan beberapa teman mencoba mendaki puncak Welirang & Arjuna di usia belasan. Saat itu memang masih bertongkat semangat. Peralatan kami ala kadarnya, ransum kami yang luar biasa. Bahkan kami juga bawa kompor, peralatan masak, tikar, tenda pramuka sampai baju ganti minimal lima potong. Bisa dibayangkan berapa berat Carier kami?

Namun, kebersamaan adalah hal utama, kehangatan yang berpijar diantara celah-celah pohon. Satu tekad untuk mengukir sejarah dalam awal remaja kami. Meski kami belum sempat memikirkan substansi keindahan dan alam sendiri bagi kami dan semilyar umat manusia di penjuru dunia.

Tanpa merasa bersalah, kami memaku lempengan seng berukuran 5 X 20 cm yang didalamnya tertulis nama kami serta organisasi Pecinta Alam yang terdengar masih kekanak-kanakan. SAIPA (Satuan Anak Pecinta Alam). Nama itu tercetak jelas di belakang kaos bersanding dengan gambar tebing curam dan siluet matahari yang akan tenggelam.

Kami bawa sekitar 15 lempengan. Dan di tiap tikungan adalah sasaran kami untuk melekatkannya pada sebatang pohon. Sungguh naif, kami berharap lempengan itu bisa menjadi petunjuk bagi pendaki lain. Menganggap kami yang dominan, sekumpulan anak-anak bau kencur yang merasa bahwa petualangan kali itu adalah petualangan luar biasa.

Kami berangkat melalui jalur pendakian Cemara Sewu. Pos pertama kondisi jalan adalah bebatuan yang disusun rapi warga sekitar. Jalan masih datar dengan sekeliling adalah hutan pinus yang selalu dalam kondisi lembab. Baru pada pos kedua sampai sebelum puncak kondisi jalan berubah menanjak dengan jalan berbatu serta berkontur tanah.

Bagitu baik laiknya seorang ibu, alam membimbing kami diantara malam yang senyap. Saat itu kami memang melakukan pendakian disaat tidak musim mendaki. Di malam yang hanya ditemani suara-suara binatang dan nyanyian pohon, kami senantiasa berada dalam kecemasan. Berdoa agar fajar datang lebih cepat. Meski demikian kami bisa melewati malam itu hingga sampai puncak. Tentu saja kami sangat bersyukur.